Rabu, 11 Februari 2009

Kecerdasan manusia

OPTIMALISASI KECERDASAN MANUSIA
OLEH : TAUFIKURRAHMAN

Prolog
Setiap manusia pada dasarnya telah dianugerahkan oleh Allah karunia berupa kecerdasan namun sedikit yang mencoba untuk mengoptimalkan. Hal ini mungkin karena banyak yang belum mengetahui dengan sebenarnya potensi kecerdasan yang ada pada dirinya serta bagaimana upaya untuk mengoptimalkannya. Tulisan ini mencoba menguak tentang potensi kecerdasan yang ada pada diri manusia serta usaha yang mungkin bisa dilakukan dalam rangka mengoptimalkannya.

Mengenal Otak Manusia
Berbicara tentang kecerdasan manusia tentu tidak terlepas dari pembicaraan tentang otak manusia. Otak manusia adalah massa protoplasma yang paling kompleks yang yang pernah dikenal di alam semesta. Inilah satu-satunya organ yang sangat berkembang sehingga mampu mempelajari dirinya sendiri. Jika dirawat dalam tubuh yang sehat dan lingkungan yang baik yang dapat merangsangnya, maka otak manusia akan tetap aktif dan bisa bertahan lama.
Otak manusia mempunyai tiga bagian dasar yaitu: batang atau otak reptil, sistem lembik atau otak mamalia dan neokorteks. Batang atau otak reptil merupakan komponen kecerdasan yang terendah. Bagian otak ini berkenaan dengan fungsi-fungsi motor-sensor yaitu pegetahuan tentang realitas fisik yang berasal dari panca indra. Prilaku yang ada dalam otak reptil berkaitan dengan insting untuk mempertahankan hidup dan dorongan untuk mengembangkan spesies. Perhatiannya adalah pada makanan, tempat tinggal, reproduksi dan perlindungan wilayah.
Di sekeliling otak reptil terdapat sistim limbik yang sangat kompleks dan luas yaitu otak mamalia. Sistim limbik berada di bagian tengah otak manusia. Fungsinya bersifat emosional dan kognitif, yaitu menyimpan perasaan, pengalaman yang menyenangkan, memori dan kemampuan belajar. Sistem ini juga mengatur bioritme manusia seperti pola tidur, lapar, haus, tekanan darah, detak jantung, gairah seksual, temperatur dan kimia tubuh, metabolisme dan sistem kekebalan. Karena itu sistem limbik meruapakan bagian yang sangat penting dalam mempertahankan kehidupan manusia.
Bagian ketiga yaitu neokorteks merupakan bagian paling atas yang membungkus sistim limbik dan membentuk sekitar 80% dari seluruh materi otak. Bagian ini merupakan tempat bersemayam kecerdasan manusia, yang mengatur pesan-pesan yang diterima melalui penglihatan, pendengaran dan sensasi tubuh manusia. Proses yang berasal dari pengaturan ini adalah penalaran, berpikir secara intelektual, pembuatan keputusan, perilaku waras, bahasa, kendali motorik sadar dan penciptaan gagasan nonverbal.


Multiple Intelegence
Dalam neokorteks semua kecerdasan yang lebih tinggi berada, membuat manusia unik sebagai spesies. Howard Gardner telah mengidentifikasi berbagai kecerdasan khas yang dapat dikembangkan ada manusia. Menurutnya bahwa pada diri manusia terdapat multiple intellegence sebanyak -paling tidak- delapan jenis kecerdasan yaitu pertama kecerdasan linguistik yaitu kemampuan membaca,menulis dan berkomunikasi dengan kata-kata atau bahasa. Profesi mereka antara lain sebagai penulis, jurnalis, penyair, orator dan juga pelawak. Kedua kecerdasan logis matematis yaitu kemampuan berpikir logis dan menghitung. Suatu ketrampilan yang dimiliki dan dikembangkan oleh insinyur, ekonom, akuntan, detektif dan praktisi hokum. Ketiga kecerdasan visual-spasial yaitu kemampuan berpikir menggunakan gambar, menvisualisasikan hasil masa depan, membayangkan berbagai hal pada mata pikiran. Kecerdasan ini biasanya dimiliki oleh seniman, arsitek, pemahat, fotografer, perencana strateis dan pelaut. Keempat kecerdasan musikal yaitu kemampuan menggubah dan mencipta musik, dapat bernyanyi dengan baik, memahai dan mengapresiasi musik serta menjaga ritme. Profesi mereka seperti musisi, komposer dan perekayasa rekaman. Kelima Kecerdasan kinestetis tubuh yaitu kemampuan menggunakan tubuh secara trampil untuk memecahkan masalah, menciptakan produk atau mengemukakan gagasan dan emosi. Satu kemampuan yang banyak dimiliki oleh atlet, penari, aktor dan sutradara. Keenam kecerdasan interpersonal, yaitu kemampuan bekerja dengan efektif dengan orang lain, berempati, mengerti dan memotivasi orang lain. Ketujuh Kecerdasan intrapersonal yaitu kemampuan menganalisa dan merenung diri, mampu menilai prestasi orang lain, dan mampu mengenali diri dengan benar, suatu kemampuan yang dimiliki oleh filosof, penyuluh, pembimbing dan pemimpin. Kedelapan Kecerdasan naturalis yaitu kemampuan untuk mengenali flora dan fauna, mengemukakan secara runtut dalam dunia kealaman. Suatu kecerdasan yang dimiliki oleh petani, botanis, konservator, biolog.
Kiri Dan Kanan
Tipe bagian otak manusia juga dapat dibagi menjadi belahan kiri dan belahan kanan. Para pakar percaya bahwa masing masing belahan otak kita mengatur "mode" pikiran yang berbeda walaupun ada persilangan dan interaksi antara kedua sisi. Hipotesa ini disebarluarkan oleh Roger Sperry, yang memenangkan Hadiah Nobel untuk penelitiannya pada tahun 1981. "Mode-mode" itu secara kasar terbagi seperti berikut:
Otak Kiri Otak Kanan
Logis Intuitif
Berurutan Acak
Rasional Holistik
Analisa Sintesa
Obyektif Subyektif
Sebagian Menyeluruh
Otak kiri berhubungan dengan pikiran logik, analisa, dan ketepatan, sementara otak kanan berfokus pada keindahan, perasaan dan kreatifitas. Sepertinya bagian sebelah kanan adalah teman kreatifitas kita. Ide-ide baru datang dari keadaan yang tak normal, tanpa mengacuhkan batas dan fakta, berkelana ketempat dimana orang belum pernah pergi sebelumnya, untuk mencari galaksi baru dan peradaban. Otak kiri, dilain pihak, menganalisa, mengatur, dan berurusan dengan detail, secara umum mensabotase kreatifitas pemikiran kita. Kedua belahan otak itu sama-sama penting bagi manusia. Orang yang bisa memanfaatkan kedua belahan otak itu dengan baik akan cnederung seimbang dalam setiap aspek kehidupannya.
IQ, EQ dan SQ
Pada masa lalu, terutama mulai awal abad XX, kecerdasan manusia hanya diukur dengan apa yang disebut dengan kecerdasan intelektual atau rasional. Kecerdasan intelektual adalah kecerdasan yang digunakan untuk memecahkan masalah logika atau strategis. Para psikolog menyusun berbagai tes untuk mengukurnya dan tes-tes ini menjadi alat untk memilah manusia kedalam berbagai tingkatan kecerdasan yang kemudian lebih dikenal dengan istilah IQ (Intellegence Quotient/kecerdasan intelejensi).
IQ atau kecerdasan Intelejensi biasanya atau sering digunakan sebagai patokan tingkat kecerdasan seseorang dan sering digunakan sebagai salah satu persyaratan waktu akan mencari pekerjaan atau akan memasuki dunia pendidikan. Intelegensi dapat diartikan sebagai daya atau kemampuan manusia untuk menyesuaikan diri dengan keadaan baru dengan menggunakan alat-alat berpikir (otak) yang dimilikinya. Disini dapat dilihat bahwa kecerdasan erat kaitannya dengan masalah penyesuaian diri terhadap masalah yang dihadapinya. Menurut teori ini, orang yang memiliki intelegensi tinggi akan lebih cepat dan lebih tepat di dalam menghadapi masalah-masalah baru dibandingkan dengan orang yang kecerdasannya kurang. IQ digolongkan menjadi 4 (empat) kategori yaitu: kecerdasan rata-rata dengan angka IQ 90 - 109; diatas rata-rata dengan angka IQ 110-119; cerdas dengan angka IQ 120-129 dan IQ diatas 130 untuk kategori jenius (cerdas sekali).
Apakah orang dengan IQ yang rendah atau rata-rata tidak akan seberhasil orang dengan IQ yang tinggi? Lalu bagaimana dengan adanya kenyataan bahwa orang yang ber IQ tinggipun bisa gagal sedangkan orang yang ber IQ rata-rata menjadi sangat sukses dalam hidupnya? Pemikiran inilah yang kemudian memunculkan pentingnya kecerdasan emosi untuk menandingi kecerdasan intelektual. Inilah tantangan bagi mereka yang menganut pandangan sempit tentang kecerdasan dengan mengatakan bahwa IQ merupakan masalah keturunan atau bawaan (genetik) yang tidak bisa diubah lagi, sekalipun oleh pengalaman hidup seseorang.
Pada pertengahan 1990-an, Daniel Goleman mempopulerkan penelitian dari banyak neurolog dan psikolog yang menunjukkan bahwa kecerdasan emosional (EQ) sama pentingnya dengan kecerdasan intelektual. Kecerdasan emosional (EQ) memberikan kesadaran tentang perasaan diri sendiri dan perasaan orang lain. Kecerdasan emosional (EQ) mengajarkan tentang rasa empati, cinta, motivasi dan kemampuan untuk menanggapi kesedihan dan kegembiraan dengan tepat. Kecerdasan emosional mencakup pengendalian diri, semangat dan ketekunan, serta kemampuan untuk memotivasi diri sendiri. Keterampilan-keterampilan seperti ini dapat diajarkan kepada anak-anak sejak dini, untuk memberi mereka peluang yang lebih baik dalam memanfaatkan potensi yang ada dalam diri mereka.
Emosi adalah setiap kegiatan atau pergolakan pikiran, perasaan, nafsu atau setiap keadaan mental (psikologis) yang hebat atau meluap-luap. Walaupun bentuk emosi itu bermacam-macam yang bahkan terkadang sulit untuk kita definisikan karena terkadang emosi itu bercampur aduk menjadi satu. Berbagai macam emosi tersebut dapat dikategorisasikan menjadi amarah, kesedihan, rasa takut, kenikmatan, cinta, terkejut, jengkel dan malu.
Kecerdasan emosional, sebagaimana yang dikatakan Goleman, merupakan persyaratan dasar untuk menggunakan IQ secara efektif. Jika bagian-bagian otak telah merasa rusak, seseorang tidak akan bisa berfikir efektif. Untuk itulah diperlukan satu ketrampilan dalam mengelola emosi sehingga emosi tersubut akan mengantarkan seseorang kepada kesuksesan. Keterampilan dalam mengelola emosi, paling tidak, meliputi:
1. mampu mengidentifikasi serta mendefinisikan perasaan yang muncul
2. mampu mengungkapkan perasaan, mampu menilai intensitas (kadar) perasaan
3. mampu mengelola perasaan
4. mampu mengendalikan diri sendiri
5. mampu mengurangi stres
6. mampu mengetahui perbedaan antara perasaan dan tindakan.
Kecerdasan emosional juga mencakup ketrampilan lainnya yang berkaitan dengan kognisi seperti, keterampilan melakukan monolog (berbicara kepada diri sendiri) atau melakukan dialog batin untuk menghadapi suatu masalah; dapat membaca atau menafsirkan isyarat-isyarat sosial, misalnya mengenali pengaruh sosial terhadap perilaku kita dan melihat dampak perilaku kita tidak hanya dengan kacamata pribadi akan tetapi dengan pandangan (perspektif) yang lebih luas yaitu masyarakat dimana kita tinggal; menggunakan langkah-langkah yang tepat dalam menyelesaikan masalah yang dihadapi dengan memperhitungkan resiko-resiko yang mungkin akan terjadi; mampu memahami sudut pandang orang lain; memahami sopan santun, perilaku mana yang dapat diterima dan mana yang tidak dapat diterima oleh orang lain atau masyarakat bersikap positif dan optimistis; serta mampu mengembangkan harapan-harapan yang realistis tentang diri sendiri dan masa depan kita

Seiring dengan perkembangan teknologi dan ilmu pengetahuan kemudian ditemukan kecerdasan yang lain yaitu kecerdasan spiritual (SQ). Kecerdasan spiritual ini merupakan temuan terkini secara ilmiah. Gambaran utuh kecerdasan manusia dilengkapi dengan adanya kecerdasan spiritual yaitu suatu kecerdasan untuk menempatkan prilaku dan hidup kita dalam konteks makna yang lebih luas dan kaya, kecerdasan untuk menilai bahwa tindakan atau jalan hidup seseorang lebih bermakna daripada yang lain. Kecerdasan spiritual yang merupakan temuan terkini secara ilmiah pertama kali digagas oleh Danah Zohar dari Harvard University dan Ian Marshall dari Oxford University melalui riset yang sangat komprehensif. Pembuktian ilmiah tentang kecerdasan spiritual berawal dari temuan bahwa pada diri manusia terdapat God-spot sebagai pusat spiritual yang terletak di antara jaringan syaraf dan otak. Penelitian membuktikan bahwa ada proses syaraf dalm otak manusia yang terkonsentarsi pada upaya untuk mempersatukan dan memberi makna dalam pengalaman hidup kita. Pada God-Spot inilah sebenarnya terdapat fitrah manusia yang terdalam.

Hakekat Kecerdasan Manusia

Manusia pada dasarnya adalah makhluk spritual karena selalu terdorong untuk mengajukan pertanyaan yang pokok dan mendasar. Mengapa saya dilahirkan? Apa makna hidup saya? Apa yang membuat hidup ini berharga? Dan pertanyaan mendasar lainnya. IQ dan EQ, baik secara terpisah atau bersama-sama, tidak cukup untuk menjelaskan kompleksitas kecerdasan manusia beserta kekayaan jiwa dan imajinasinya. Komputer memiliki IQ yang tinggi, mengetahui adanya aturan dan mengikutinya tanpa salah. Banyak hewan yang mempunyai EQ yang tinggi. Mereka mampu mengenali situasi yang ditempatinya dan mengetahui cara menanggapi situasi tersebut dengan benar dan tepat. Akan tetapi baik komputer maupun hewan tidak pernah bertanya mengapa kita memiliki aturan atau situasi atau apakah aturan dan situasi itu bisa diubah atau diperbaiki. SQ memungkinkan manusia untuk kreatif, memberikan kemampuan untuk membedakan, memberi rasa moral, kemampuan untuk menyesuaikan aturan yang kaku dengan dibarengi oleh pemahaman dan cinta. Kecerdasan manusia yang sebenarnya adalah jalinan dari ketiga jenis kecerdasan di atas yaitu IQ, EQ dan SQ.
Apa yang diungkapkan oleh Gardner tentang berbagai macam kecerdasan manusia pada dasarnya dapat dihubungkan dengan salah satu sistem syaraf dasar yang ada di dalam otak. Kecerdasan manusia mungkin saja lebih dari itu, jumlahnya mungkin tidak terbatas, akan tetapi semuanya hanyalah merupakan varian dari ketiga jenis kecerdasan di atas. Idealnya ketiga jenis kecerdasan ini harus bekerja sama dan saling mendukung. Meskipun demikian harus disadari bahwa masing-masing kecerdasan itu, IQ,EQ dan SQ, memiliki kekuatan tersendiri dan bisa berfungsi secara terpisah. Hal yang terbaik adalah bagaimana usaha untuk mengoptimalkan ketiga jenis kecerdasan tersebut dan menggunakannya dengan sebaik-baiknya.


Optimalisasi Kecerdasan
Pada dasarnya semua manusia memiliki masing-masing jenis kecerdasan di atas, yaitu IQ,EQ dan SQ, hanya saja kemampuan masing-masing manusia berbeda dalam ketiga jenis kecerdasan di atas. Untuk itulah dalam rangka mengoptimalkan segenap potensi kecerdasan yang ada, kita harus mengenal dengan baik diri kita sendiri. Semakin baik pengenalan terhadap diri sendiri makan akan semakin terbuka pula kesempatan untuk mengoptimalkan potensi kecerdasan yang kita miliki.
Dalam pengembangan potensi kecerdasan rasional misalnya, Boby DePorter menjelaskan tiga cara belajar sesuai dengan tipe genetikal yang dimiliki oleh seseorang yaitu tipe visual yang belajar lewat penglihatan, tipe auditorial yang belajar lewat pendengaran dan tipe kinestetik yang belajar lewat gerakan, kerja dan sentuhan. Pengenalan diri yang benar akan mengantarkan seseorang untuk memahami siapa dirinya dan tipe apa yang cocok bagi dirinya. Pengenalan terhadap diri juga akan mengantarkan pada pemahaman tentang tipe kecerdasan mana - dari multiple intelegence yang digagas oleh Gardner- yang menonjol dalam dirinya dan yang perlu ia kembangkan untuk kebaikannya di masa mendatang.
Pengenalan seseorang terhadap bagian-bagian yang ada dalam otaknya serta pembagiannya pada belahan kiri dan kanan akan membantunya untuk bisa mengoptimalkan dengan baik. Erbe Sentanu menyatakan bahwa perbaikan diri seseorang harus dimulai dari perbaikan otaknya. Untuk itu sebagaimana layaknya program komputer, otak pun harus diup-grade, dalam rangka mengharmoniskan otak kiri dan otak kanan, menintegrasikan seluruh potensi kecerdasan IQ, EQ dan SQ, sehingga otak kita bisa mendapatkan kualitasnya yang maksimal.
Brainwave Management
Brainwave management adalah suatu konsep atau ketrampilan untuk mengatur gelombang otak manusia yang paling sesuai dengan aktivitasnya sehingga bisa mencapai hasil yang optimal.
Bila direkam dengan alat perekam gelombang otak yaitu EEG (Elektroensefalogram), ternyata otak memancarkan gelombang sesuai dengan kondisi jiwa seseorang.Gelombang otak itu dibagi menjadi:
EMPAT KATEGORI GELOMBANG OTAK
Beta
14 - 100H Kognitif, analitik, otak kiri, konsentrasi, pemilahan, prasangka, pikiran sadar
Aktif, cemas, khawatir, stress, fight or flight, dis-ease, cortisol, noripinephine
Alpha
8 - 13,5 Hz Khusyu’, relaksasi, meditatif, focus alertness, superlearning, akses nurani bawah sadar
Ikhlas, nyaman, tenang, santai, istirahat, puas, segar, bahagia,endorphine, serotonin
Theta
4 - 7,9 Hz Sangat khusyu’, deep meditation, problem-solving, mimpi, intuisi, nurani bawah sadar
Ikhlas, kreatif, integratif, hening, imajinatif, cathecolmines, AVP (arginine vasopressin)
Delta
0,1–3,9 Hz Tidur lelap (tanpa mimpi), non pshisical state, nurani bawah sadar kolektif
Tidak ada pikiran dan perasaan, cellurar generation, HGH (Human Growth Hormone)

Tingkatan optimum untuk berpikir , menurut Jose silva –Founder Silva Mind Method- adalah 10 Hz yang meruapakan frekuensi optimum untuk melatih kecerdasan semua indra manusia dan pintu masuk ke hati atau bawah sadar. Kesuksesan seseorang untuk melakukan perubahan sangat ditentukan oleh frekuensi gelombang otak alfa. Semakin pandai seseorang masuk ke dalam gelombang alfa maka akan semakin mudah pula pola hidupnya, kemudahan dalam urusan bisnis dan karir, percepatan proses belajar, penyembuhan diri sendiri, hubungan yang baik dengan semua orang termasuk menjalankan perintah agama dengan penuh ketenangan – yang kesemuanya merupakan pengejawantahan dari IQ, EQ dan SQ.
Mencapai gelombang alfa ternyata akan membantu kita dalam kehidupan ini, dalam mengoptimalkan seluruh potesi kecerdasan. Namun tenyata sangat sedikit yang bisa melakukannya. Betapa tidak, setiap hari ternyata kita banyak bergerak dalam gelombang beta (bangun tidur, langsung berpikir tentang rencana kerja, kemudian melakukan aktivitas seharian) dan delta (pulang kerja merasa lelah, menganuk dan akhirnya tidur) dan jarang sekali melewati alfa dan theta, padahal dalam kedua gelombang ini sebetulnya meruapakan sumber inspirasi dan kekuatan otak kita. Jika hal ini berlangsung terus menerus maka otak kita akan mengalami penurunan kualitas (downgrade). Untuk itu lewat teknologi digital player terbaru, Erbe Sentanu menawarkan kepada kita satu metode untuk terus mengupgrade otak, mengkondisikan kembali ke dalam gelombang alfa sehingga otak kita akan bisa mencapai hasil yang optimum, otak reptil akan mendapatkan kekuatan dan stamina, tenang, aman dan nyaman, sistim limbik akan mendapatkan kemampuan, kepercayaan diri dan bisa menerima diri sendiri sedangkan neokorteks andakan menjadi kreatif dan imajinatif. Dengan adanya upaya optimalisasi lewat up grade otak itu, diharapkan kita dapat menggapai kehidupan yang bermanfaat baik bagi diri kita maupun bagi orang lain

Epilog
Manusia pada dasarnya merupakan makhluk yang diciptakan dalam bentuk yang paling sempurna dan dibekali dengan berbagai macam kecerdasan dalam rangka menunaikan tugasnya sebagai khalifah fil ardh. Untuk itu upaya yang harus dilakukan oleh manusia adalah benar-benar mengenali siapa dirinya sehingga bisa mengoptimalkan kemampuannya. Semoga kita bisa.













DAFTAR PUSTAKA

Danah Zohar dan Ian Marshall. SQ Memanfaatkan Kecerdasan Spiritual dalam Brpikir Integralistik dan Holistik untuk Memaknai Kehidupan ter. Rahmani Astuti dkk. Bandung: Mizan, 2002
Ary Ginanjar Agustian. Rahasia sukses Membangun Kecerdasan Emosi dan Spiritual ESQ Emotional Spiritual Quotient Berdasarkan 6 Rukun Iman dan 5 Rukun Islam. Jakarta: arga wijaya Persada, 2001.
Boby DePorten dan Mike Hernacki. Quantum Learning Membiasakan belajar Nyaman dan Menyenangkan. Bandung: Kaifa, 2002
Erbe Sentanu, Quantum Ikhlas Teknologi Aktivasi Kekuatan Hati .Jakarta : PT Elek Media Komputindo, 2007.

Baca Selengkapnya,..